Minggu, 04 Desember 2011

Madrasah Nidzamiyah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Madrasah merupakan isim makan dari fi’il madhi dari darasa,mengandung arti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran (Abuddin Nata, 2004: 50). Dengan demikian, secara teknis Madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal dan memiliki konotasi spesifik. Madrasah itu sendiri merupakan institusi peradaban Islam yang sangat penting. Dan Madrasah sebagai satu system pendidikan Islam berkelas dan mengajarkan sekaligus ilmu-ilmu keagamaan dan non keagamaan. Meskipun sebagian diantara lembaga-lembaga pendidikan itu menggunakan istilah school (sekolah), tetapi dilihat dari system pendidikannya yang terpadu lembaga pendidikan yang seperti itu biasa dikategorikan dalam bentuk Madrasah. Menurut Karen Amstrong dalam bukunya Islam a Short History, 2002: “Setiap sekolah mempunyai sumber penghasilan sendiri yaitu yang berasal dari harta wakaf yang diperuntukan buat pembiayaan-pembiayaan mahasiswa dan para gurunya”. Sekolah-sekolah seperti itu sangat memperhatikan pengajaran-pengajaran agama islam. Salah satu diantara sekolah-sekolah tinggi yang terpenting ini adalah Madrasah Nizamiyah di Baghdad.
Madrasah merupakan lembaga pendidikan hukum yang paling utama dan tetap memanfaatkan metode pengajaran dan menawarkan bidang studi yang telah berkembang di Mesjid-Akademik yang mengkhususkan diri pada kajian hukum.
 Nizamiyah mengambil nama dari Nidham al-Mulk, berdiri sebagai Madrasah paling unggul pada abad ke-11. Terletak di pusat kerajaan, Nizamiyah menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi paling terkenal pada saat itu dan menjadi model bagi pembangunan lembaga-lembaga serupa di seluruh daerah kekuasaan Islam. Lagi pula, oleh karena tersedianya dokumen-dokumen tentang Madrasah ini, para ilmuwan mengetahui Nizamiyah dan cara kerjanya lebih baik dari pengetahuan mereka tentang Madrasah lain yang manapun (Charles Michael Stanton, 1994: 49).




B.    Rumusan  Masalah
Satu transisi penting terjadi lagi dalam evolusi lembaga pendidikan tinggi Islam, lembaga-lembaga kecil dengan hanya seorang syaikh di beberapa kota, beralih menjadi lembaga pendidikan tinggi yang lebih besar dan lebih kompleks. Madrasah-Madrasah yang di dukung oleh wakap dalam jumlah besar sekarang cenderung mencakup lebih dari satu mazhab di dalamnya. Dalam makalah ini dibatasi beberapa masalah, yaitu:
1.      Bagaimana sejarah pertumbuhan madrasah nizhamiyah?
2.      Bagaimana sistem pendidikan madrasah nizhamiyah?
3.      Bagaimana pengaruh madrasah nizhamiyah?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui sejarah pertumbuhan madrasah nizhamiyah.
2. Untuk mengetahui  sistem pendidikan madrasah nizhamiyah.
3. Untuk mengetahui pengaruh madrasah nizhamiyah.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Pertumbuhan Madrasah Nizhamiyah
Menurut Stanton, Madrasah yang pertama kali didirikan adalah Madrasah Wazir Nizamiyah, pada tahun 1064 M. Madrasah ini dikenal dengan sebutan Madrasah Nizamiyah. Bulliet menyebutkan ada 39 Madrasah di wilayah Persia yang berkembang dua abad sebelum Madrasah Nizamiyah. Yang tertua adalah Madrasah Niandahiya yang didirikan Abi Ishaq Ibrahim ibn Mahmud di Nisyapur.
Menurut beberapa literature yang saya baca, bahwa Madrasah Nizhamiyah di Baghdad terletak di dekat sungai  Dijlah di tengah-tengah pasar Salasah (Suq al-Salasah) di Baghdad. Mulai di bangun pada tahun 457 H/1065 M dan selesai pada tahun 459 H. madrasah ini tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 M, yaitu ketika di kunjungi oleh Ibnu Batutah.Ahmad Syalabi berkeyakinan bahwa pasar Al-Chaffafin yang terdapat di Baghdad saat ini adalah tempat dimana madrasah Nizhamiyah dulunya berdiri.
Menurut Mahmud Yunus yang dikutip oleh (Abuddin Nata, 2004), mengatakan bahwa di antara motivasi pendirian banyak Madrasah di masa pengaruh Turki (Saljuk) adalah untuk mengambil hati rakyat, mengharap pahala dan ampunan dari Allah, memelihara kehidupan anak-anaknya di kemudian hari, memperkuat aliran keagamaan bagi sultan atau pembesar. Motif-motif ini, terutama motif politik dan motif doktrin keagamaan tampak dominan pada Madrasah Nizhamiyah.
Sekarang kita beranjak pada pembicaraan mengenai seorang guru yang bernama Al-Ghazali. Al-Ghazali telah turut bertukar fikiran dengan orang-orang terkemuka (imam-imam) dan ulama-ulama yang hadir. Al-Ghazali ternyata dapat menundukan lawannya dan semua yang hadir membenarkan ucapan-ucapan Al-Ghazali. Oleh karena itu Al-Ghazali telah diangkat oleh Nidham Al-Mulk menjadi mahaguru di Sekolah tinggi yang terkenal itu. Madrasah Nizamiyah di Baghdad ini sungguh merupakan suatu Madrasah yang agung dan patut di banggakan. Guru-guru dan ulama-ulama pengajar di sanapun telah diangkat sehingga benar-benar telah teratur rapi.


Diantara guru-guru yang telah mengajar di Madrasah Nizamiyah di Baghdad ini salah satunya ialah Syekh Abu-IshaqAs-Syirazi, pengarang Kitab At-Tanbih, yaitu Kitab fiqh menurut Syafi’I. Beliau adalah seorang ulama ulung, yang menghidupkan ilmu dan telah mengungkapkan kebenaran dan hal-hal yang masih di sangsikan, beliau telah menjelaskan asal usul ilmu dan cabang-cabangnya, menjelaskan apa yang dikatakan dalil dan macam-macamnya. Dalam perpustakaan sekolah Nizamiyah di Baghdad itu terdapat pula suatu daftar isi yang lengkap dan detail mengenai isi dari lebih kurang 6.000 buku yang ada di sana dan yang merupakan buku-buku wakaf buat sekolah tersebut.
Selain itu disetiap dusun dan kota, didirikan sekolah-sekolah menurut system Nizamiyah untuk penyebaran ilmu dan agama, dan oleh Nidham al-Mulk di bantu dengan buku-buku, keuangan dan guru-guru. Penulis Abu Shamah dalam bukunya “Ar-Raudhatain” menyatakan: “sekolah-sekolah Nidham Al-Mulk sangat terkenal di dunia tidak ada satu daerahpun yang tidak memiliki seperti itu”. Sekolah tersebut mencerminkan sekolah-sekolah yang ada diabad pertengahan, dan sekolah-sekolah Nizamiyah yang cukup besar telah didirikan di kota-kota berikut: Baghdad, Balakh, Nizabur, Herat, Asfahan, Basrah, Marwa, Aamal dan Mousul.Di setiap kota di Irak dan Khurasan (Persia) terdapat sekolah-sekolah menurut system Nidham Al-Mulk. Sistem ini kemudian ditiru pula oleh kaum Muslimin lainnya sehingga disetiap kota dan ibu kota Negara-negara Islam lainnya bertebaranlah sekolah-sekolah seperti itu.
Di Mesir tidak ada didirikan sekolah-sekolah seperti diatas kecuali setelah jatuhnya kerajaan Fatimiyah dan berdirinya Negara Ayyubiyah. Dalam Negara Ayyubiyah ini, banyaklah tersebar sekolah-sekolah di Mesir begitu pula di Syria sampai datangnya zaman Memeluk. Nureldin Zanki, yang menjadi raja di Syria setelah berakhirnya kerajaan Salajiqah di sana, sangat memperhatikan sekali soal-soal kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Beliau mengumpulkan ulama-ulama untuk mengadakan pembahasan-pembahasan, perdebatan-perdebatan dan bahkan beliau memanggil ulama-ulama dari penjuru-penjuru kerajannya yang luas itu.

B.     Sistem Pendidikan Madrasah Nizhamiyah Baghdad
Berikut secara sederhana akan dibahas komponen-komponen pendidikan yang terdapat pada Madrasah Nizhamiyah yang dianggap sebagai model bagi system pendidikan modern:
1.      Tujuan Pendidikan Madrasah Nizhamiyah Baghdad
Menurut Abdul Majid Abdul Futuh dalam buku karya (Abuddin Nata, 2004: 65): tujuan pokok pendidikan Madrasah Nizhamiyah: Pertama, mengkader calon-calon ulama yang menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi’ah; kedua, menyediakan guru-guru Sunni yang cakap untuk mengajarkan mazhab Sunni dan menyebarkannya ketempat lain; ketiga, membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintah, memimpin kantornya, khususnya dibidang peradilan dan manajemen.     

2.      Kurikulum dan Metode Pengajaran Madrasah Nizhamiyah Baghdad
Mahmud Yunus mengatakan bahwa kurikulum Madrasah Nizhamiyah tidak diketahui dengan jelas. Namun dapat disimpulkan bahwa materi-materi ilmu syari’ah diajarkan disini sedangkan ilmu hikmah (filsafat) tidak diajarkan. Fakta-fakta yang mendukung pernyataan ini adalah: pertama, tidak ada seorangpun diantara ahli sejarah yang mengatakan bahwa diantara materi pelajaran terdapat ilmu-ilmu umum. Kedua, guru-guru yang mengajar di Madrasah Nizhamiyah merupakan ulama-ulama Syari’ah. Ketiga, pendiri Madrasah ini bukanlah pembela filsafat. Keempat, zaman berdirinya Madrasah ini merupakan zaman penindasan ilmu filsafat dan para filosof.
Dengan terfokusnya pengajaran di Madrasah Nizhamiyah kepada ilmu-ilmu syariah, tentulah ilmu fiqh mendapat perioritas utama. Pembahasan fiqh yang menyangkut hampir semua masalah-masalah kemasyarakatan, memang tepat sebagai bekal untuk calon-calon birokrat atau pemimpin masyarakat kala  itu. Pengajaran fiqh yang bertumpu kepada pemahaman sumber-sumber yang berbahasa Arab, maka penguasaan bahasa Arab berikut ilmu pendukungnya sangat ditekankan.
Dari keterangan lain disebutkan bahwa pelajaran di Madrasah Nizhamiyah berpusat pada Al-Quran (membaca, menghafal dan menulis), sastra Arab, sejarah Nabi Muhammad SAW dan berhitung dengan menitikberatkan pada mazhab Syafi’I dan system teologi Asy’ ariyah.

3.      Tenaga Pengajar dan Pelajar Madrasah Nizhamiyah Baghdad
Madrasah Nizhamiyah merupakan lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan pendidikan tingkat tinggi pula. Oleh karena itu, pemilihan guru-guru yang mengajar di Madrasah ini sangat selektif. Ulama-ulama terkemuka pada waktu itu dan guru-guru besar yang masyhur dan mempunyai kompetensi di bidangnyalah yang dipilih untuk mengajar. Status guru-guru tersebut ditetapkan dengan pengangkatan oleh khalifah dan bertugas dalam masa tertentu.
Menurut Mahmud Yunus dalam buku karya (Samsul Nizar, 2007: 164), guru-guru yang memberikan pelajaran di Madrasah Nizhamiyah antara lain yaitu:
1)      Abu Ishak al-Syirazi
2)      Abu Nashr al-Shabbagh
3)      Abu Kosim al-A’lawi
4)      Abu Abdullah al-Thabari
5)      Abu hamid al-Ghazali
6)      Radliyud Din al-Qazwaini
7)      Al-Firuzabadi
Nizam Al-Mulk juga menyediakan beasiswa untuk mahasiswa dan memberi mereka fasilitas asrama. Mereka yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya. Ia memberi bantuan untuk semua pelajar tanpa mengharap kembali , dan seluruh biaya pendidikan disitu gratis.
     
4.      Pendanaan dan Sarana Madrasah Nizhamiyah Baghdad
Sumber dana yang paling lazim bagi pembangunan Madrasah adalah lembaga wakaf, sebuah cara tradisional dalam Islam untuk mendukung lembaga yang melayani kebutuhan masyarakat umum (Abuddin Nata, 2004: 70).
Dalam pembangunan Madrasah, Wazir Nizam Al-Mulk menyediakan dana wakaf untuk membiayai mudarris, imam dan juga mahasiswa yang menerima beasiswa dan fasilitas asrama. Dengan dana itu, ia mendirikan Madrasah-Madrasah Nizhamiyah di hampir seluruh wilayah kekuasaan Bani Saljuk saat itu, mendirikan perpustakaan dengan lebih kurang 6.000 jilid buku lengkap dengan katalognya.







C.    Pengaruh Madrasah Nizhamiyah
Menurut A.L. Tibawi dalam buku karya (Abuddin Nata, 2004: 72): Madrasah Nizhamiyah telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat, baik bidang politik, ekonomi, maupun bidang social keagamaan.
Dalam bidang ekonomi, Madrasah Nizhamiyah disamping sebagai lembaga untuk mengajarkan ilmu syari’ah dalam rangka mengajarkan ajaran Sunni, memang dimaksudkan pula untuk mempersiapkan pegawai pemerintah, khususnya dilapangan hukum dan pemerintah. Dengan demikian, Madrasah telah menjanjikan lapangan kerja. Dari segi social keagamaan, Madrasah Nizhamiyah diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan linhkungan dan keyakinannya.























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nizhamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan dalam bentuk Madrasah yang dikelola oleh pemerintah pada masa Bani Saljuk. Madrasah ini mempunyai corak yang berbeda dari lembaga pendidikan sebelumnya. Madrasah ini didirikan di kota Baghdad dan sekitarnya ( ditemui hampir di setiap daerah), didirikan oleh seorang perdana mentri yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan disamping factor politik dan keagamaan. Perdana Menteri itu bernama Nizham al-Mulk dengan memakai system modern.
Madrasah Nizhamiyah mempunyai manajemen yang bagus, dikelola dengan baik seperti dapat dilihat dari segi pendanaan, gedung-gedung yang bagus dan dalam jumlah yang banyak. Guru-guru digaji selama masa jabatannya, perpustakaan yang lengkap asrama dan makan untuk mahasiswa, biaya sekolah gratis dan kurikulum ditetapkan oleh pemerintah Baghdad.

B.     Saran
Demikianlah makalah ini penulis buat, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan serta jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari rekan-rekan mahasiswa serta dosen pengampu mata kuliah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), cet. Ke-6
Nata Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2004), cet. Ke-I
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar