Kamis, 21 Juni 2012

PARADIGMA PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN




A.       Latar Belakang Masalah
Paradigma merupakan konsepsi, model atau pola pemikiran yang sifatnya umum dan mendasar. Paradigma bukan teori, tetapi merupakan pemikiran yang teoritis yang menuju kepada pengembangan teori tentang sesuatu, dan pemikiran teoritis ini menjadi dasar fundamental bagi paraktek.
Paradigma pendidikan merupakan pemikiran teoritis yang sifatnya mendasar yang dipakai sebagai latar belakang bagi disusunnya suatu framework untuk pelaksanaan pendidikan. Biasanya paradigma itu dinyatakan dalam bentuk skema, yang memperlihatkan hubungan – hubungan antara unsur – unsur yang terlibat didalamnya. Paradigma bukanlah sistem, tetapi dalam suatu sistem terdapat sejumlah paradigma, yang merupakan konsep dasar dalam pelaksanaan sistem itu. Namun sebuah paradigma dapat berkembang menjadi sebuah sistem.
Sebuah paradigma dapat berubah tergantung sejauhmana kebenaran paradigma itu masih dapat diterima. Proses pengembangan sains menurut Thomas Kuhn mengikuti paradigma yang dimulai dengan tahap “pra sains”, diikuti tahap “sains normal” lalu periode “sains luar biasa”, lalu tahap “sains normal” kembali dst.[1] Dimana proses itu merupakan lingkaran kegiatan dan demikian terjadi struktur revolusi ilmu pengetahuan menurut Kuhn. Karena itu sebuah paradigma dapat berubah menjadi paradigma baru apabila paradigma lama itu mendapatkan dikritik terhadap kelemahannya.
Seperti telah dimaklumi bahwa salah satu perubahan penting dalam sistem pemerintahan di Indonesia di era reformasi adalah perubahan paradigma pemerintahan dari sentralisasi yang ketat menjadi sentralisasi terbatas yang dikenal dengan otonomi pemerintah daerah, yang bermakna bahwa pemerintah daerah memiliki otonomi daerah yang luas untuk membangun daerahnya dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan, dimana sistem pendidikan nasional yang selama ini dilaksanakan secara sentralistis, dengan paradigma pemerintahan otonomi daerah masing – masing.
Dalam konteks kehidupan bangsa dan bernegara, Indonesia hanya memiliki sistem pendidikan yaitu sistem pendidikan nasional, yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak  serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa dan mewujudkan tujuan nasional.[2]
Dikarenakan paradigma pendidikan merupakan pemikiran yang mendasar tentang pendidikan, untuk itu penulis tertarik membahas tema ini yang berjudul Paradigma Pendidikan .
    
B.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian paradigma pendidikan dan perkembangan dalam pendidikan ?
2.      Bagaimanakah paradigma teori behavioristik, kontruktivistik dan sosial kognitif dalam pendidikan ?

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui pengertian paradigma pendidikan dan perkembangan dalam pendidikan
2.      Untuk mengetahui paradigma teori behavioristik, kontruktivistik dan sosial kognitif dalam pendidikan







BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Paradigma dan Perkembangan dalam Pendidikan
Kata Paradigma dalam bahasa Inggris adalah "paradigm" yang berarti “model”.[3] Sedangkan Barker menyatakan bahwa kata "paradigma" berasal dari bahasa Yunani yaitu "Paradeigma", yang juga berarti model, pola, dan contoh.[4]  Menurut istilah, Adam Smith mendefinisikan paradigma sebagai cara kita memahami kehidupan, seperti air bagi ikan.
William Harmon menulis bahwa paradigma adalah cara yang mendasar dalam memahami, berfikir, menilai, dan cara mengerjakan sesuatu yang digabungkan dengan visi tentang kehidupan tertentu.
Sedangkan Barker sendiri mendifinisikan paradigma sebagai seperangkat peraturan dan ketentuan (tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal: (1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan (2) ia menjelaskan kepada anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang yang berhasil.[5]
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, tampaklah bahwa paradigma adalah cara dan pola yang mendasari pemahaman, penilaian, peraturan, dan pedoman dalam mengerjakan sesuatu. Jadi, "paradigma baru" berarti cara atau pola baru dalam melakukan sesuatu.
Paradigma ilmu dirumuskan oleh Kuhn sebagai kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh komunitas ilmuwan sebagai pandangan dunianya. Paradigma ilmu ini berfungsi sebagai lensa, sehingga melalui lensa ini para ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut.[6]
Paradigma diartikan sebagai alam disiplin intelektual, yaitu cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan memengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang diterapkan dalam memandang realitas kepada sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.[7]
Sehingga paradigma pendidikan adalah suatu cara memandang dan memahami pendidikan, dan dari sudut pandang ini kita mengamati dan memahami masalah-masalah pendidikan yang dihadapi dan mencari cara mengatasi permasalahan tersebut.
Dalam ilmu sosial, menurut Ritzer dan tiga paradigma. Pertama, paradigma fakta sosial yang berakar pada pemikiran Emile Durkheim sehingga juga populer disubut dengan Perspektif  Durkheimian. Paradigma ini mendasar kan pada filsafat positime dari Auguste Comte yang menyatakan segala seauatu serba terukur dan berkembang mengikuti hukum sebab akibat. Kehidupan ini lalu di bangun menggunakan hukum dan logika ‘jika-maka’. Tidak ada gejala yang tidak bisa di jelaskan. Gejala yang tidak bisa di ukur dan tidak bisa di jelaskan, diartikan sebagai tidak ada.[8]
Dalam pradigma fakta sosial, tindakan seseorang di asumsikan merupakan fungsi dari sistem atau struktur dalam masyarakat. Mereka lalu mempertanyakan fungsi elemen-elemen dalm sistem atau struktur tersebut. Elemen tersebut harus memiliki fungsi dan harus memiliki dan memberi sumbangan bagi upaya membangun harmoni. Pendidikan sebagai elemen dalam masayrakat misalnya, harus memiliki sumbangn terhadap pemacahan masalah yang di hadapi masyarakat, dan membantu menciptakan keseimbangan.
Mereka yang berfikir sistemik seperti ini disebut Ritzer sebagai penganut paradigma fakta sosial. Fakta sosial yang di maksud tiada lain adalah suatu yang bersifat eksternal di luar individu dan bersifat memaksa individu, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tradisi aturan, hukum, sebagai kesepakatan, struktur sosial, kesemua itu berada di luar dan memaksa individu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.[9]
Kedua, paradigma definisi sosial. Dalam paradigma yang berakar dari gagsan Max Weber ini berangkat dari asumsi dasar yang mengatakan bahwa tindakan seseorang bukan karena faktor dari luar, melainkan datang dari dorongan diri sendiri. Tradisi atau budaya yang berkembang di lingkungannya bukan sebagai pendorong seseorang melakukan tindakan. Tindakan seseorang merupakan hasil dari keinginan, motivasi, harapan,nilai-nilai serta berbagai bentuk penafsiran manusia sebagai individu terhadap dunia dimana ia hidup. Pemikiran inilah yang disubut Ritzer sebagai paradigma definisi sosial. Individu bertindak atas dasar devinisi atau pemaknaan yang diberikn atas sesuatu. Oleh karena itu tidak seperti penganut paradigma fakta sosial yang mengatakan individu produk masyarakat, maka dalam paradigama definisi sosial justru masyarakat dipandan sebagai hasil dari tindakan dan penafsiran individu atas dunianya. Pertanyaan yang di anjurkan biasanya adalah bagaimana seseorang menafsirkan dan memahami sebuah fenomena.
Ketiga, paradigma pertukaran sosial. Paradigma ini muncul dari gagasan skinner. Dalam hal ini seperti paradigma fakta sosial, individu bertindak berdasarkan stimulus dari luar. Namun tidak seperti paradigma fakta sosial yang memendang faktor struktual atau system yang menjadi acuan tindakan seseorang, maka menurut paradigma memandang siapa mendapat apa. Mereka berasumsi bahwa stimulus yang bagus akan menghasilkan respon yang bagus pula. Sebaliknya stimulus yang buruk kan menghasilkan respon yang buruk pula.
Paradigma sosial yang di gagas Ritzer tersebut juga berkembang dalam pemikiran tentang pengembangan model pendidikan. Model pengembangan pendidikan itu termasuk berimplikasi terhadap pola pengembangan kurukulium dan silabi, kepemimpinan, menejemen sumber daya, pengelolaan kelas dan tentu juga strategi pembelajaran, disamping cara-cara melakukan evaluasi pendidikan. Paradigma prilaku sosial mendasarkan pada perspektif pertukaran dalam pendidikan kemudian melahirkan model behavioristik. Sementara itu paradigma perilaku sosial melahirkan model konstruktivistik dalam pendidikan.[10]
  
B.     Paradigma Behavioristik, Kontruktivistik Dan Sosial Kognitif Dalam Pendidikan
1.      Paradigma Behavioristik Dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan selama ini dikenal paradigma klasik yang disebut paradigma behavioristik.  Paradigma ini muncul terutama pada tahun 1930-an. Paradigma ini dipelopori oleh Pavlov (1849-1936), Watson (1878-1958), Skinner dan Thorndike (1874-1949).[11]
Paradigma ini cukup berpengaruh dalam dunia pendidikan sampai pada tahun 1960-1970-an di barat dan bahkan sampai 1990-an di Indonesia. Paradigma behavioristik atau perilaku sosial ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk pengembangan menejemen pendidikan yang mendasarkan pada pemikiran positivisme, empirisme, teknokrasi dan manajerialisme. Ia merupakan reaksi terhadap model pmbelajaran sebelumnya yang menganut perspektif gcstalt yang memfokuskan pada cara kerja pemikiran kognitif.
Perspektif yang dikembangkam oleh Piaget dan Vygotsky ini dianggap oleh penganut paradigma behavioristik memiliki kelemahan karena tidak memfokuskan langsung kepada gerakan-gerakan tubuh dan gejala internal tubuh yang bisa diamati.[12]
Pavlov menunjukan hubungan yang simple antara stimulus dan respon dalam pengajaran untuk membentuk perilaku organisme.
Sementara itu Watson (1878-1958) yang memperkenalkan istilah behaviorisme mengembangkan gagasannya berdasarkan apa yang di rintis Pavlov. Ia mengembangkan pemikiran bahwa bentuk substitusi satu stimulus terhadap yang lain. Hal ini di lakukan dengan asumsi bahwa cara berfikir manusia mekanistik, dan bukan merupakan proses kerja mental.
Thorndike (1913-1931) banyak memberi sumbangan pengembangan paradigma behavioris dengan mengeksplorasi dampak perilaku tertentu terhadap perilaku tetentu lainnya. Temuannya menghasilkan rumus yang berlaku secara umum yang disebut dengan hukum pengarih (law of effect). Dalam hukum pengaruh ini dikatakan bahwa respon kuat akan diberikan apabila situasi dibuat menyenangkan tetapi respon lemah jika situasi tidak menyenanglan. Implikasinya tindakan yang menghasilkan hal yang menyenangkan akan cenderung diulang dengan menggunakan lingkungan dan cara yang sama. Hukum pengaruh inilah yang dijadikan sebagai batu pijakan dalam tindakan.
Menurut teori ini lingkungan pembelajaran merupakan faktor yang amat menentukan. Pembelajaran dilihat sebagai pembentukan respon berdasarkan stimulus dari luar. Hadiah dan sangsi  merupakan cara-cara yang diaggap sangat efektif untuk membentuk dan mengembangkan bakat.
Paradigma ini tidak menempatkan segala sesuatu pikiran, intelegensia, ego dan berbagai bentuk rasa perorangan yang tak dapat dijelaskan sebagai sesuatu yang diperhitungkan. Mereka berpandangan ‘tidak ada hantu dalam sebuah mesin.’ Meskipun mereka mengakui adanya kesadaran dan pemikiran manusia. Namun hal itu bukan merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam menyusun strategi pembelajaran. Dalam hal menyusun pembelajaran, mereka merasa cukup dengan segala sesuatu yang dapat diamati (observable). Dari pemikiran ini, maka prestasi pembelajaran sering diartikan sebagai akumulasi dari berbagai skill, pembuatan memori terhadap berbagai fakta dalam wilayah dan kerangka pengetahuan tertentu. Kesemua itu kemudian membentuk kebiasaan yang memungkinkan dapat menampilkan hasil dengan cepat.[13]
Pemikiran seperti tergambar diatas, lalu menimbulkan implikasi terhadap berbagai faktor pemblajaran. Implikasi terhadap peran guru dalam pembelajaran, misalnya, guru harus bisa melatih skill siswa dengan tugas-tugas yang benar, jelas dan cepat. Implikasinya terhadap pengembangan kurikulum, siswa harus diperkenalkan mulai dari skill dasar terlebih dahulu, baru kemudian diberikan skill dan kompetensi yang lebih rumit dan kompleks. Pemblajaran bukan dimulai dari yang sulit, melainkan dari yang sederhana. Pembelajaran berlangsung dalam proses stimulus dan respon. Pembetulan sebuah kesalahan dilakukan dengan membangun hubungan antara stimulus dan respon.
Implikasinya terhadap peran siswa antara lain dalam pengorganisasian  pembelajaran. Guna mencapai hasil yang optimal, siswa harus diorganisasikan dalam kelompok yang homogen dilihat dari latar belakang kemampuan dan tingkat skill yang dimiliki. Disamping pemberian instruksi dan  program pembelajaran diatur secara hirarkis dengan memperhatikan tingkat kemajuan pemilihan, kemampuan dan skill siswa.[14]
Implikasi terhadap cara penilain, disini paradigma behavioristiik mengajarkan agar kemajuan pembelajaran diukur ,melalui test dengan berbagai item yang ditentukan berdasarkan level atau tingkat hirarki skill siswa. Hasil belajar biasany dilihat dari sudut benar atau tidak benar, dan bagi mereka yang hasilnya kurang diberi kesempatan untuk mengulang lebih intensif  lagi pada bagian yang di anggap kurang tersebut. Kalau tidak melakukan latihan ulang secara lebih intensif, bisa juga dilakukan dengan cara mulai kembali belajar dari skill dasar.[15]
Guna menerapkan paradigma behaviouristic yang juga sering disebut sebagai perspektif Skinnerian ini guru harus merumuskan tujuan pembelajaran tertentu dalam karangan pembelajaran behaviouristic. Selanjutnya guna menyusun tahapan-tahapan pembelajaran tersebut secara hirarkis sehingga pada akhirnya sampai pada tujuan tersebut. Sementara itu siswa ditempatkan pada situasi yang kondusif untuk mencapai pembentukan perilaku tertentu.
Lingkungan, situasi atau operant merupakan alat melakukan reinforcement. Alat itu bisa berupa materi, mainan, perlombaan, kegiatan yang menyenangkan dan dorongn yang bersifat eksternal lainnya. Oleh karena itu guru harus pandai memilih alat yang tepat sebagi operant atau pendorong. Hal itu harus dilakukan karena menurut Skinner pendorong yang baik (positif reinforcement) akan menghasilkan respon yang baik atau efektif. Sebaliknya pendrong yang jelek (negatif reinforcement) akan menghasilkan respon yang jelek oleh karena itu tidak efektif.
Untuk menjalankan paradigma Skinnerian ini, guru memerlukan sejumlah kompetensi yang harus dikuasai. Kopetensi itu meliputi :
a.       Mengetahui perilaku siswa secara tepat dan mendorong disiplin diri siswa.
b.      Menggunakan pendekatan yang dapat memecahkan perilku yang tidak diinginkan.
c.       Menggunakan berbagai bentuk strategi mengelola perilaku seperti peraturan negosiasi, penggunaan sanksi yang efektif. Mengembangkan keiatan rutin yang jelas dalam mengelola perilaku siswa konsisten dengan peraturan sekolah. Melakukan tindakan yang tepat, tegas, adil dan konsisten.[16]

Guru juga harus memiliki kemampuan membuat perencanaan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, melalui progam, sasaran tahapan aktifitas, menyediakan contoh, mengkoreksi praktik agar sesuai dengan rencana, dan tidak melepas siswa belajar sendiri. Untuk itu guru harus melakukan upaya antara lain :
a.         Menghubungkan progam pembelajaran dengan tujuan dan sasaran pendidikan.
b.         Menyusun tujuan yang jelas dalam progam pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran siswa sebagai mana telah yang di sepakati sebelumnya.
c.         Pilih dan buat tahapan aktifitas belajar untuk mencapai tujuan yang telah di rencanakan.
d.        Perhatikan tujuan siswa dan segala capaian yang telah di raih oleh siswa sebelumnya.
e.         Susunan strategi pembelajaran behavioristik dengan berupaya mengembangkan pembelajaran, tahap demi tahap, serta jamin tersedia contoh pada masing-masing tahap, berikan koreksi pada praktek yang salah, upayakan tidak melepaskan siswa belajar sendri secara langsung, melainkan bimbing dan kalau hendak melepaskan lakukan sevara bertahap.
f.          Hubungan proses penilaian atau evaluasi dengan strategi, tujuan, isi dan tugas pembelajaran.[17]

2.      Paradigma Kontruktivistik Dalam Pendidikan
Paradigma konstruktutivistik beakar pada filsafat homanisme dan fenomenologi. Namun dalam perkembangnanya, paradigma ini juga mengambil sejumlah gagasan yang di kembangkan oleh filsafat rasionalisme dan bahkan juga positivisme, meskipun tidak sedominan seperti dalam paradigma behavioristik. Paradigma konstruktivistik ini di kembangkan oleh Chomsky dalam Linguistik, Sinom dalam computer scientists, dan Bruner dalam pengetahuan kognitif dan belakangan beralih ke pendekatan sosial budaya. Dalam pendidikan dikaitkan dengan nama-nama seperti Piaget dan Vygotsky. Ahli psikoanalisis juga bergabung denga pradigma ini dan menambah perspektif ini menjadi lebih kaya, sehingga kemudian popularitas paradigma ini menggeser popularitas paradigma behaviolistik pada tahun 1960-an.[18]
Paradigma konstruktivisme merupakan suatu tuntutan baru di tengah terjadinya perubahan besar dalam mamaknai proses pendidikan dan pembelajaran. Pergeseran paradigma pembelajran yang sebelumnya lebih menitikberatkan pada peran guru, fasilitator, instruktur yang demikian besar, dalam perjalanannya semakin bergeser pada pemberdayaan peserta didik atau siswa dalam mengambil inisiatif dan partisipasi di dalam kegiatan belajar. Dalam kajian filsafat, berkembangnya konstruktivisme tidak terlepas dari perubahan pandangan yang cukup lama yang menempatkan pengetahuan sebagai representasi ( gambaran atau ungkapan) kenyataan dunia yang terlepas dari pengamatan (objektivisme). Pandangan yang menganggap bahwa pengetahuan merupakan kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini berkembang pesat pemikiran, terlebih dalam bidang sains yang menempatkan bahwa pengetahuan tidak terlepas dari subjek yang sedang belajar mengerti.[19]
Konstruktivisme dalam hal ini mengembangkan pembelajaran dengan berbasis kepada ‘pemahaman siswa’ . Kalau ingin memahami apa yang telah di ketahui siswa dan dapat memonitor perkembangan prestasi pembelajaran dan pengetahuan siswa maka faktor pemahaman siswa harus menjadi faktor perhatian guru.
Tugas guru dengan demikian adalah memahami fakto-faktor instrinik yang ada dalam diri siswa. Dengan demikian, menciptakan situasi pembelajaran yang menarik dan kondusif, bukan semata tugas guru. Pada paradima behavioristik, tugas meciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif adalah tugas guru. Guru harus bisa menciptakan alat reinforcement yang bagus. Sebaliknya, dalam paradigma konstruktifistik, siswa  juga memiliki potensi intrinsik dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.[20]
Dalam pendidikan konstruktivistik, pembelajaran di pandang sebagai proses yang dikendalikan sendiri oleh siswa. Pembelajaran mengembangkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa yang dilakukan di tempat dimana siswa sebagai partisipan. Perspektif ini menekankan pada proses pembelajaran kolaburatif, sehingga proses pembelajarannya dilakukan bersama, siswa diberi fasilitas untuk berinteraksi dengan lingkungannya disertai dengan proses refleksi diri. Dengan pendekatan seperti ini pendidikan konstruktifisik menegaskan bahwa sumber balajar bukan hanya ber sumber dari guru, melainkan juga dari kawan sepergaulan dan orang-orang di sekitarnya.
 Paradigma konstruktivisme mengembagkan inisiatif yang kreatifitasnya individu dan kreatifitas pemikiran individu dalam pembelajaran. Sementara dalam paradigma behavioristik, memberi kesempatan sedikit saja bagi individu dan muncuknya kreatifitas siswa secara perorangan.
Paradigma kontruktivistik menekankan kepada pemahaman, serta memecahkan persoalan dalam konteks pemaknaan yang dimiliki oleh siswa. Proses strategis yang dilakukan mulai cara pemikiran yang deduktif dan digabung dengan pemikiran induktif.[21]  Ada dua jenis pendidikan kontruktivisme yaitu :
a.       Kontruktivisme Psikologi
Dalam hal ini pendidikan difokuskan kepada siswa sebagai individu dan bagaimana mereka mengkonstruk pengetahuan, keyakinan dan identitasnya sendiri selama proses pembelajaran.
b.      Kontruktivisme Sosial
Dalam hal ini pendidikan difokuskan kepada peran faktor sosial dan budaya dalam mengembangkan pembelajaran. Interaksi sosial ini yang dapat membentuk perkembangan kognisi. Interaksi sosial dengan demikian merupakan kunci dalam proses pembelajaran.[22]
Selebihnya paradigma kontruktivistik seperti dirinci dengan baik oleh Mclnerney dan Mclnerney dapat dilihat dari cara menyampaikan materi, metodologi, motivasi dan perumusan tujuan dan cara evaluasi sebagai berikut :[23]
a.       Alat menyampaikan materi
1)      Penyampaian materi merupakan bagian tidak terpisahkan dari pilihan yang dilakukan oleh siswa tentang proyek, aktivitas atau apa yang dikerjakan.
2)      Pembelajaran merupakan proses menghubungkan materi dengan pengalaman yang menjadi minat siswa
3)      Siswa menentukan sendiri dalam mengatur materi dan waktu
4)      Menyediakan banyak pilihan bahan pembelajaran yang menarik.
b.      Aktivitas dan metodologi
1)      Aktivitas pembelajaran dan metodologi dilakukan dengan memperhatikan kepribadian siswa
2)      Kegiatan pembelajaran dilakukan secara terpadu dan nyata dan relevan dengan minat siswa
3)      Menekankan pada proses pembelajaran daripada materi pembelajaran
4)      Bukan hanya meningkatkan skill tetapi pemikiran dan pemahaman siswa
c.       Motivasi dan tujuan
1)      Motivasi, kepuasan dan pemuhan diri datang dari siswa
2)      Pembelajaran bertujuan mendorong pengembangan kehidupan personal dan sosial, kemampuan komunikasi
3)      Mendorong tumbuhnya kemampuan belajar dengan sendiri dan tanggung jawab
4)      Menumbuhkan sikap kepribadian dan evaluasi berbasis evaluasi diri
d.      Evaluasi
1)      Evaluasi dengan membuat daftar isian observasi
2)      Memilih sendiri tugas dan kegiatan yang memperkaya pembelajaran
3)      Kegiatan yang dilakukan berdasarkan kontrak yang dibuat
4)      Diskusi dengan guru, daftar isian skill, catatan harian
5)      Interaksi efektif dengan orang lebih dewasa
3.      Paradigma Sosial Kognitif Dalam Pendidikan
Bredo (1997) mengembangkan paradigma ini dengan memanfaatkan psikologi fungsional dan filsafat pragmatisme dari karya James, Deway dan Mead. Ia juga mengaitka dengan nilai – nilai demokratik serta pemikiran behavioristik. Asumsi dasarnya dibangun berdasarkan prinsip bahwa individu selalu berdialog dengan lingkungannya.[24]
Dalam paradigma social kognitif, pembelajaran disetting sedemian rupa sehingga siswa bisa menggunakan sistem pengetahuan yang dimlikinya dan digunakan untuk berdialog dengan lingkungan. Pembelajaran atau pemikiran dilakukan melalui tindakan yang bisa mengubah situasi. Situasi yang berubah mengubah cara pembelajaran yang dilakukan siswa. Gagasan yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran adalah aktifitas yang difasilitasi yang didalamnya terdapat bentuk – bentuk ragam budaya yang ada menjadi faktor penting.[25]
Dengan demikian pembelajaran dalam perspektif ini dapat diartikan sebagai aktifitas sosial dan kolaborasi. Didalamnya siswa mengembangkan pemikirannya bersama – sama. Kelompok kerja bukan soal pilihan tambahan. Pembelajaran dilakukan secara parsipatoris. Apa yang dipelajari bukan hanya yang dimiliki individu namun sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain, dan oleh karena itu paradigma ini disebut dengan ‘distributed cognition’ pemikiran yang terbagikan.[26]
Selebihnya, paradigma sosial kognitif dirinci dengan baik oleh Mclnerney dan Mclnerney sebagai berikut :[27]
a.       Alat penyampaian materi
1)      Melakukan display model
2)      Berfokus pada siswa
b.      Aktivitas/metodologi
1)      Metode rinci, tahap demi tahap mengikuti model
2)      Penjelasan dan pemberian informasi verbal
3)      Bahan instruksional disusun secara teratur dan menarik
4)      Memberikan kesempatan siswa untuk memahami dan menyajikan kembali materi pembelajaran
c.       Motivasi dan tujuan
1)      Membuat instrumen reinforcement
2)      Menekan dorongan instrinsik maupun reinforcement
3)      Menguasai perilaku yang ditentukan dan mentransformasikannya dalam situasi baru
d.      Evaluasi
1)      Melakukan evaluasi formative secara terus menerus dan memberi respon terhadap umpan balik secara langsung
2)      Mereproduksi pendorong kepuasan yang diperlukan untuk membentuk perilaku
3)      Menggunakan skill yang diperlukan dalam situasi yang sama maupun yang baru melalui transformasi
Didalam praktik di kelas, selanjutnya menyusun strategi pembelajaran yang menurut Krause ada tiga strategi :[28]
a.         Mendorong pembelajaran terpusat pada pengalaman dan kegiatan siswa
Pengalaman, pengetahuan, dan minat siswa harus menjadi titik awal guru mengemas pembelajaran di kelas. Dengan demikian pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Oleh karena latar belakang pengetahuan dan minat mereka beragam, maka guru sangat dianjurkan untuk belajar tentang multikultur.
b.           Memberikan kesempatan siswa belajar bekerja sama
Kerjasaman adalah kunci dimata kontruksionis. Strategi pembelajarannya dengan demikian harus didesain dalam bentuk pembelajaran kelompok sehingga siswa memiliki kesempatan memperoleh pengalaman bekerja sama, berbagi ide dan belajar satu sama lainnya.
c.         Bantu siswa baru mengembangkan keahliannya
Pembelajaran merupakan perspektif kontruksionis, harus bisa membantu siswa baru mengembangkan keahlihan dalam bidang ilmu tertentu sehingga mereka bisa mandiri, dan mengatur sendiri kegiatan belajar mereka.



























BAB III
KESIMPULAN



Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Paradigma pendidikan adalah suatu cara memandang dan memahami pendidikan, dan dari sudut pandang ini kita mengamati dan memahami masalah-masalah pendidikan yang dihadapi dan mencari cara mengatasi permasalahan tersebut. Dan juga dalam pendidikan terdapat sejumlah paradigma berfikir. Paradigma behavioristik, kontruktivistik dan sosial kognitif yang memiliki rpengaruh dalam pendidikan.
2.      Paradigma behavioristik, kontruktivistik dan sosial kognitif dalam pendidikan dapat dijelaskan :
a.       Paradigma behavioristik menekankan faktor eksternal sebagai penentu efektifitas pembelajaran. Strategi pembelajaran difokuskan kepada upaya menyediakan faktor eksternal yang positif dan kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran
b.      Paradigma kontruktivistik yang menegaskan pembelajaran hanya akan efektif jika ada dorongan instrinsik dari siswa. Dan strategi pembelajarannya difokuskan pada aktifitas dan inisiatif siswa.
c.       Paradigma sosial kognitif merupakan model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa individu atau siswa dengan sistem pengetahuan yang dimilikinya selalu berinteraksi dengan struktur atau lingkungan sekitarnya. Strategi pembelajaran dengan demikian lebih difokuskan kepada dialog individu dengan dunia atau struktur disekitarnya.







DAFTAR PUSTAKA

Achmad Fathoni, Pengantar Sosiologi Pendidikan, diktat
Dennis McInerney dan Valentina McInerney, Psychological Education, (NSW:Prentice Hall,2002)
Farid Anfasa Moeloek, dkk, Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI, (Jakarta:BSNP,2010), ver-01
Kerri – Lee Krause, et. All, Education Psychology for Learning and Teaching, (Australia: Nelson Australia Pty Lmtd, 2007)
Kuhn, T,S,  The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago:UCP,1962)
Joel Arthur Barker, Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan. (Batam:Interajsar,1999)
J. Bruner, 1996, kutip James dalam John Gradner, Assessment and Learning, 2006
M.John Echols dan Shadily. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:Gramedia,1992)
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, (Yogyakarta:Kanisius,1997)
UU RI Nomor 20 Tahun 2003, Sisdiknas, (Jakarta:Depag RI,2006)
Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 2




[1]Kuhn, T,S,  The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago:UCP,1962), hlm. 51
[2]UU RI Nomor 20 Tahun 2003, Sisdiknas, (Jakarta:Depag RI,2006), hlm. 49
[3]M.John Echols dan Shadily. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:Gramedia,1992), hlm. 417
[4]Joel Arthur Barker, Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan. (Batam:Interajsar,1999), hlm. 38
[5]Ibid, hlm. 38 - 40
[6]Farid Anfasa Moeloek, dkk, Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI, (Jakarta:BSNP,2010), ver-01, hlm. 6
[7]Ibid
[8]Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 2, hlm. 17
[9] Achmad Fathoni, Pengantar Sosiologi Pendidikan, diktat,  hlm. 8
[10]Ibid, hlm. 8
[11]Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 2, hlm. 19  
[12]Dennis McInerney dan Valentina McInerney, Psychological Education, (NSW:Prentice Hall,2002), hlm. 126 
[13]Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan … hlm 20 - 21
[14]Ibid, hlm. 22
[15]Gardner, Assessment and Learning, 2006, hlm. 54-55
[16]Achmad Fathoni, Pengantar Sosiolo gi Pendidikan, diktat ,hlm 11
[17]Ibid, hlm. 11
[18]J. Bruner, 1996, kutip James dalam John Gradner, Assessment and Learning, 2006, hlm. 55 
[19]Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, (Yogyakarta:Kanisius,1997), hlm. 18
[20]Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan … hlm. 26
[21]Ibid, hlm. 27
[22]Kerri – Lee Krause, et. All, Education Psychology for Learning and Teaching, (Australia: Nelson Australia Pty Lmtd, 2007), hlm. 183
[23]Dennis McInerney dan Valentina McInerney, Psychological Education, (NSW:Prentice Hall,2002), hlm. 153
[24]Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan … hlm. 31
[25]LS. Vigotsky, 1978, kutip James dalam John Gardner,…. hlm. 57
[26]Solomon, 1993, kutipan James dalam  John Gardner, ibid
[27]Dennis McInerney dan Valentina McInerney, Psychological Education, (NSW:Prentice Hall,2002), hlm. 153
[28]Achmad Fathoni, Pengantar Sosiologi Pendidikan, diktat , hlm. 15-16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar